BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Manusia diciptakan oleh Allah sebagai khalifatullah fi al-Ardl.
Ia bertugas untuk menjaga dan merawat dunia. Oleh karena itu manusia diberi
akal untuk bisa menalar dan mengetahui tentang apa saja yang bisa menjadi
sarana untuk merawat dunia.
Dalam memperoleh pengetahuan ini, manusia melakukan beberapa cara
untuk dapat mengetahuinya. Cara-cara tersebut berbeda antara satu dengan
lainnya. Perbedaan cara tersebut pada akhirnya menghasilkan beberapa kesimpulan
yang berbeda antara satu dengan lainnya.
Sekalipun semua manusia dibekali dengan akal, namun proses mereka
untuk menemukan pengetahuan berbeda-beda. Satu kelompok menggunakan dan
mengedepankan akal dalam mencari pengetahuan. Sedangkan kelompok yang lain
menggunakan akal sebagai sarana kedua setelah panca indera. Hal inilah yang
kemudian menjadikan para filosof berdebat tentang hakekat pengetahuan dan
sumbernya.
Perbedaan sengit para filosof mengenai pengetahuan menunjukkan
ungensitasnya dalam kehidupan manusia. Pengetahuan bisa mempengaruhi perilaku
manusia dalam skala personal dan kehidupan bermasyarakat dalam skala luas.
Tidak jarang permusuhan diantara manusia terjadi disebabkan pengetahuan yang
berbeda.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa pengetahuan
itu ?
2.
Dari
mana pengetahuan itu muncul ?
3.
Bagaimana
sejarah pengetahuan manusia ?
C.
Tujuan Penulisan
Tujuan utama dari penulisan makalah ini adalah
sebagai pemenuhan tugas mata kuliah Filasafat Hukum Islam. Disamping itu juga,
makalah ini ditulis dengan tujuan mengetahui hakikat pengetahuan, macam-macam
pengetahuan dan sumber-sumbernya.
D.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan
lebih luas cakupannya daripada ilmu karena pengetahuan terdiri dari pengetahuan
ilmiah dan non-ilmiah.Dalam bahasa arab, pengetahuan diungkapkan dengan kata ‘ilm dan
ma’rifah. Sedangkan dalam bahasa inggris, pengetahuan diistilahkan
dengan kata knowledge dan dalam bahasa prancis disebut connaissance.
Terdapat beberapa penafsiran
mengenai hakikat pengetahuan. Menurut kelompok mu’tazilah pengetahuan adalah sesuatu
yang bisa menentramkan kepada seseorang apabila ia mengetahui sesuatu yang ia
peroleh. Oleh karena itu apabila sesuatu itu tidak menjadikan tentram dan tidak
diyakini oleh orang tersebut maka tidak dinamakan sebagai pengetahuan Sedangkan menurut Ahlus Sunnah pengetahuan adalah mengetahui objek
sesuai dengan hakekatnya. Ini adalah pendapat yang dikemukakan oleh Imam al-Bulqini. Sedangkan
menurut Imam al-Ghazaliy pengetahuan adalah munculnya gambaran ideal dalam akal
manusia.
Pengetahuan dengan kedua definisi
tersebut diatas berbeda dengan pandangan pengetahuan menurut Filosof Muslim. Menurut mereka pengetahuan adalah tercapainya gambaran sesuatu pada
akal manusia. Menurut Ikhwan al-Shafa pengetahuan adalah gambaran objek
yang diketahui pada diri orang yang mengetahui. Adapun pengetahuan menurut al-Quran adalah
pengetahuan-pengetahuan, pemahaman-pemahaman, hukum-hukum, dan pengertian-pengertian
yang bersifat pasti berupa kesimpulan dari apa yang diperoleh melalui wahyu,
panca indera, akal, intuisi, dll.
Sedangkan menurut para ahli di
Indonesia terdapat beberapa pengertian terkait dengan definisi pengetahuan.
Menurut Pudjawidjana, Pengetahuan memiliki definisi sebagai reaksi dari setiap
orang dan diterima dengan rangsangan terhadap alat terkait kegiatan indera
penginderaan jauh di objek tertentu. Sedangkan Notoadmojo (2002),
Mendefinisikan Pengetahuan berupa ide atau hasil dari sebuah aktivitas/Prilaku
manusia yang telah terjadi setelah penginderaan dari objek tertentu, teori ini
pun sama halnya yang di katakan oleh Locke. Menurut Sumadi (1996) pengetahuan merupakan kemampuan
seseorang dalam mengingat fakta, simbol, proses, dan teori.
B.
Sumber
Pengetahuan
Sumber pengetahuan bermakna asal
muasal pengetahuan manusia. Para ahli mempunyai beberapa pandangan mengenai
darimana pengetahuan muncul. Pandangan-pandangan ini dapat dikategorikan
menjadi dua kelompok. Pertama asal-muasal pegetahuan menurut barat dan tradisi
timur terutama islam.
Dalam dunia barat dikenal tiga aliran
yang mempunyai pandangan tentang sumber pengetahuan. Pertama, menurut kelompok empirisme sumber
pengetahuan adalah informasi inderawi yang berasal dari panca indera. Kedua, menurut kelompok rasionalis sumber pengetahuan adalah akal. Dan Ketiga, sumber pengetahuan menurut kelompok kritisme atau positivisme adalah akal dan informasi inderawi. Disamping itu,
menurut
pengikut Plato sumber pengetahuan ini berasal dari jiwa yang mengetahui yang
ada pada alam ide.
Pandangan barat mengenai sumber pengetahuan berbeda dengan
pandangan timur. Menurut para ahli dari timur sumber pengetahuan tidak terbatas
hanya pada indera dan akal. Mereka menambahkan unsur spiritual dalam sumber
pengetahuan. Menurut al-Kindi proses untuk manusia mendapat pengetahuan ada
tiga yakni panca indera, akal, dan Wahyu. Sedangkan menurut Imam al-Ghazaliy adalah panca indera, akal, dan pengalaman
langsung (syuhud).
Sumber pengetahuan menurut kelompok
tasawwuf adalah intuisi (potensi hati
yang tercerahkan dengan cahaya Yang Maha Suci). Sedangkan
menurut Filosof Iluminasi
seperti al-Farabiy dan Ibnu Sina pengetahuan ini berasal dari al-aql
al-fa’al. Akal ini merupakan akal bagian terakhir dari beberapa akal. Akal
inilah yang menjadi suber pengetahuan ladunniy.
C. Macam-macam
Pengetahuan
1. Pengetahuan
empiris (al-Ma’rifah al-Tajribiyyah)
Pengetahuan empiris adalah pengetahuan yang muncul dari hal-hal
inderawi. Dalam dunia filsafat, pengetahuan ini merupakan gambaran dari aliran
empirisme dan matrealisme.
Pengetahuan empiris dikenal di Yunani bersumber dari panca indera dan oleh filosof Islam dikenal
dengan ilmu alam. Filosof-filosof awal termasuk kaum
shofis sangat intens dengan pengetahuan ini dengan melakukan kajian-kajian dan
diskusi-diskusi filsafat yang terkait dengan panca indera.
Panca indera dalam pengetahuan empiris menduduki posisi utama. Hal
ini mengindikasikan bahwa pengetahuan empiris tidak menafikan adanya
pengetahuan dengan selain panca indera. Namun yang menjadi catatan, legalitas
kebenaran segala sesuatu tergantung pada panca indera.
Menurut para filosof panca indera tebagi menjadi dua :
a.
Panca
Indera luar yakni mata untuk melihat, hidung untuk mencium bau, tangan untuk merasakan,
telinga untuk mendengar, dan lidah untuk merasakan.
b.
Panca
Indera Dalam yakni kekuatan batin yang menerima gambaran-gambaran materi dari
panca indera luar. Hal ini disebabkan masing-masing panca indera luar hanya
mampu menerima satu macam dari objek-objek inderawi dan tidak mampu untuk
menghukumi objek tersebut.
2. Pengetahuan
logis (al-Ma’rifah al-‘Aqliyyah)
Karakter penting yang membedakan
manusia dari makhluk yang lain adalah akal. Semua aliran sepakat dan tidak bisa
menafikan akal sebagai sumber pengetahuan. Point yang menjadi perbedaan
diantara aliran-aliran adalah pemahaman tentang akal dan bagaimana ia
terbentuk. Menurut kelompok empiris akal adalah jisim dan sesuatu yang
dipikirkan oleh akal adalah sesuatu yang muncul darinya. Sedangkan menurut
kelompok positivistime modern seperti John Lock, akal adalah unsur utama yang
terbentang luas dan tidak dapat terbagi maupun tercerai-berai yang berada pada
sebuah materi.
Kelompok rasionalis menganggap bahwa
akal termasuk alam ide dan tidak butuh terhadap materi. Segala barang inderawi
hanya mengingatkan akal terhadap alam ide atau hakikat-hakikat yang ada pada
dunia akal. Sedangkan menurut filosof muslim akal adalah bagian dari jiwa
kognitif. Teori akal filosof muslim dikonstruksikan dari teori mereka mengenai
jiwa.
Perbedaan penafsiran ini berimbas
kepada relasi antara akal dengan panca indera. Menurut kelompok empirisme,
hubungan akal dengan panca indera adalah hubungan jenis-cabang dengan pengertian
akal sebagai cabang dari panca indera atau dengan istilah yang lain akal
merupakan bagian dari proses inderawi didalam sebuah eksperimen. Hal ini
berbeda dengan kelompok rasionalis yang berpendapat bahwa hubungan akal dengan
panca indera adalah hubungan mushahabah (berjalan beriringan). Apa yang
ditangkap oleh panca indera hanya mengingatkan kepada bentuk ide yang ada dunia
akal.
Pengetahuan rasionalis oleh para
pengikutnya dianggap lebih kredibel daripada panca indera. Seringkali apa yang ditangkap
oleh panca indera menipu dan tidak sesuai dengan realitas. Dengan kelemahan ini
apa yang diketahui oleh panca indera tidak dapat dikatakan sebagai pengetahuan.
Kelemahan ini membuat pengetahuan inderawi tidak memiliki sifat dlarurah (kepastian)
dan sifat universal (shidq al-Ta’mim).
3. Pengetahuan
Mistis (al-Ma’rifah al-Laduniyyah)
Pengetahuan
ini muncul berdasarkan dari adanya sebagian orang yang mempunyai anggapan bahwa
ada sesuatu diluar akal dan panca indera manusia yang mampu untuk memberikan
pengetahuan. Sesuatu tersebut dirasakan oleh jiwa manusia dan diakui
keberadaannya oleh sifat kemanusiaannya. Dalam istilah keagamaan pengetahuan
ini berada dalam diri manusia dan disebut dengan pengetahuan nubuwwah yang
berasal dari wahyu. Adanya
pengetahuan ini bukan menegasikan kedua pengetahuan diatas tertapi menegasikan
batasan yang mengatakan bahwa pengetahuan hanya dapat diperoleh melalui kedua
cara tersebut (akal dan panca indera).
Pengetahuan laduniyyah
juga disebut sebagai al-ma’rifah al-Iayraqiyyah (Pengetahuan Iluminatif), al-Ma’rifah al-Hadatsiyyah (Pengetahuan Intuitif), dan al-Ma’rifah
al-Shufiyyah (Pengetahuan Tasawwuf). Imam al-Ghazaliy pernah mengatakan :
اعلم أن
العلوم التي ليست ضرورية وإنما تحصل في القلب في بعض الأحوال تختلف الحال في
حصولها فتارة تهجم على القلب كأنه ألقى فيه من حيث لا يدري وتارة تكتسب بطريق
الاستدلال والتعلم فالذي يحصل لا بطريق الاكتساب وحيلة الدليل يسمى إلهاماً والذي
يحصل بالاستدلال يسمى اعتباراً واستبصاراً ثم الواقع في القلب بغير حيلة وتعلم
واجتهاد من العبد ينقسم إلى ما لا يدري العبد أنه كيف حصل له ومن أين حصل وإلى ما
يطلع معه على السبب الذي منه استفاد ذلك العلم وهو مشاهدة الملك الملقى في القلب والأول يسمى إلهاماً ونفثاً في الروع والثاني يسمى وحياً وتختص به الأنبياء
“Ketahuilah, sesungguhnya ilmu yang bukan dlaruriy
hanya bisa masuk kedalam hati pada beberapa keadaan yang berbeda. Pada
suatu saat ilmu tersebut bisa tiba-tiba masuk kedalam hati seolah-olah ilmu itu
dilemparkan entah dari mana. Dan pada suatu saat ilmu itu diperoleh melalui
proses belajar dan mencari dalil. Proses ilmu yang pertama dinamakan ilham
sedangkan proses yang kedua dinamakan kontemplasi (I’tibar, istibshar ).
Sesuatu yang muncul di hati tanpa adanya proses belajar dan usaha terbagi
menjadi dua. Pertama sesuatu tersebut tidak diketahui bagaimana dan darimana ia
muncul. Ini dinamakan ilham. Kedua sesuatu yang muncul tersebut diketahui
beserta dari mana ia muncul yakni penyaksian (musyahadah)
terhadap Dzat yang memasukkan kedalam hati. Ini dinamakan wahyu yang khusus
kepada para nabi ”
Terdapat
beberapa tahapan untuk dalam pengetahuan mistis. Tahapan ini oleh para kaum
sufi terbagi menjadi tiga tahapan :
1.
Al-Hadlirah ialah sifat ada
pada hati setelah adanya ayat dan bukti spiritual.
2.
Al-Mukasyafah ialah
munculnya kebenaran dengan keterangan tanpa butuh terhadap rasionalisasi.
3.
Al-Musyahadah
ialah munculnya kebenaran tanpa ada kecurigaan berupa keraguan atau
kesamaran.
c.
Pengetahuan Dalam Lintasan Sejarah Manusia
Pengetahuan
orang zaman dahulu tentu berbeda dengan pengetahuan orang zaman sekarang. Namun
begitu, sangat sulit untuk melacak dan menjawab pertanyaan bagaimana aktifitas
pengetahuan orang zaman awal-awal. Kesulitan ini disebabkan oleh beberapa
factor, salah satu yang paling utama adalah hilangnya materi pengetahuan orang
zaman awal-awal. Hal ini karena aktivitas pengetahuan zaman dahulu masih
berbentuk oral yang dituturkan dari satu orang kepada orang lain.
Oleh karena
itu, Ibrahim Syamsyuddin membagi sejarah pengetahuan manusia kedalam dua
tahapan. Pertama adalah tahapan pengetahuan manusia-manusia awal sebelum adanya
kodifikasi pengetahuan dalam bentuk tulisan maupun buku.
Dan kedua adalah tahapan pengetahuan setelah adanya kodifikasi dalam bentuk
keduanya dan tahapan lanjutan dari perubahan manusia dari yang asalnya berburu
menjadi manusia agraris.
Pengetahuan
dalam periode pertama, sebagimana dijelaskan diatas tidak banyak diketahui.
Namun secara global dapat diketahui bahwa pengetahuan pada masa pertama rata-rata berupa pengalaman keseharian
dan terkait dengan kebutuhan manusia sehari-hari. Seperti pengetahuan cara
menyalakan api, memanen buah, dan berburu.
Permulaan
dari pengetahuan manusia yang diimplementasikan dalam bentuk perbuatan dapat
dicatat bersamaan dengan perubahan manusia dari yang awalnya mengambil makanan
yang telah tersedia di bumi, manusia perlahan mulai membuat makanan sesuai
dengan selera dan kebutuhannya. Peradaban ini perlahan-lahan mulai bergerak ke
depan dan melahirkan kebutuhan-kebutuhan baru bagi manusia.
Berangkat dari sini
dapat diasumsikan mereka juga mulai mengembangkan pengetahuan mengenai pertanian
dan pengolahan makanan. Disamping juga
bisa diasumsikan bahwa manusia mulai mengetahui tentang hitungan-bilangan.
Yang pada awalnya bilangan hanya terbatas pada jumlah jari tangan dan jari
kaki, mulai berkembang menjadi bilangan yang lebih banyak dan lebih besar. Siklus
perkembangan ini terjadi dalam hal-hal yang bersifat materi.
Tidak hanya
menyangkut aspek kebutuhan materi manusia, pengetahuan manusia juga menyangkut
kebutuhan-kebutuhan yang sifatnya non-materi seperti kepercayaan dan seni.
Seiring dengan fenomena kematian dan
bencana-bencana yang tidak terduga,manusia mulai melihat dan merenung tentang
sesuatu yang berada dibalik alam inderawi. Sesuatu tersebut tentunya lebih
tinggi, lebih perkasa daripada sesuatu yang fana dan hancur. Dari sinilah kemudian
muncul fenomena kepercayaan dalam kehidupan manusia.
Tidak hanya
kepercayaan, kebutuhan tentang seni mendorong manusia untuk juga mengetahui
segala sesuatu yang dapat membuat keindahan dan menjadikan ketenangan. Hal ini
dapat dijumpai dalam lukisan-lukisan yang berada dalam gua, bentuk bangunan,
perpaduan warna, dan aneka pahatan-pahatan.
Di
tengah-tengah hal tersebut, muncul kemudian sistem penulisan yang oleh manusia
dianggap sangat penting. Sistem
penulisan ini juga mulai berkembang secara perlahan sampai munculnya
huruf-huruf alphabet yang terdiri dari 24 huruf. Seiring dengan perkembangan sistem
penulisan, pengetahuan manusia pun mulai berkembang baik tentang sastra maupun tentang
keilmuan.
Dari
penjelasan diatas dapat ditarik benang lurus bahwa pengetahuan manusia pada
awalnya hanya berkisar dengan kebutuhan-kebutuhan langsung manusia. Setelah itu
pengetahuan manusia mulai berkembang disamping berupa kebutuhan juga pekerjaan
yang dilakukan. Kemudian berkembang kepada pengetahuan yang lebih luas dan
sistematis.
d.
Pengetahun Antara Ada dan Tiada
Dalam
pengetahuan dikenal istilah keraguan dan keyakinan. Kedua istilah ini muncul
dari sebuah problem tentang eksistensi pengetahuan (imkan al-Ma’rifah). Keraguan
dalam pengetahuan oleh sebagian kalangan diartikan dengan pengingkaran terhadap
pengetahuan itu sendiri. Sedangkan keyakinan adalah sikap menerima dan
mendukung akan eksistensi pengetahuan itu sendiri.
Keraguan tentang
pengetahuan bisa dijumpai dalam empat hal. Berikut adalah
macam-macam keraguan dalam hal ada dan tidak adanya pengetahuan beserta
sanggahan-sanggahannya.
Pertama
pengingkaran terhadap realitas-empirik. Pandangan ini menolak hakekat segala
sesuatu dan eksistensinya dalam dunia nyata. Kelompok yang menganut faham ini
adalah kaum sofis dan kelompok idealis modern.
Terhadap
keraguan yang pertama bisa disanggah dengan prinsip dasar kausalitas. Menurut
teori tersebut segala ciptaan pasti mempunyai sebab. Di alam ini terdapat
beberapa fenomena yang dapat dirasakan dan kemudian diteliti oleh manusia.
Apabila fenomena tersebut muncul dari persepsi dari dalam diri manusia sendiri,
niscaya manusia akan mengetahuinya secara langsung. Namun apabila ia tidak
mengetahui penyebab fenomena tersebut, niscaya
penyebab tersebut berasal dari luar diri manusia.
Kedua ,
meragukan terhadap kredibilitas sarana-sarana pengetahuan baik yang berasal dari akal maupun panca indera. Sarana-sarana pengetahuan dianggap tidak
mampu untuk menyingkap dan mendeskripsikan realitas. Menurut pandangan ini, panca indera satu dengan lainnya tidak
mempunyai satu kesepakatan tetang satu objek. Mata menangkap objek sebagai
sesuatu yang bulat, sementara hidung menangkap objek dengan bau harum, dan
tangan menangkap objek dengan kelembutan. Begitupun apa yang diindera oleh panca
indera akan berbeda-beda karena konteks ruang dan waktu yang berbeda semisal
dalam kondisi sehat atau sakit. Sebuah benda akan dilihat besar dan kecil oleh
mata. Dilihat kecil oleh mata apabila ia jauh dan terlihat besar apabila ia
dekat.
Sedangkan
sarana akal, mereka meragukan akal untuk menemukan pengetahuan. Sekalipun akal
merupakan sesuatu yang menjadi bawaan sejak lahir bukan berarti ia
dapat dipastikan untuk menemukan pengetahuan. Sering kali ilmu-ilmu yang diperoleh
dari akal bertentangan antara satu dengan lainnya. Ini menunjukkan bahwa sarana
pengetahuan yang dimiliki manusia tidak kredibel. Sekalipun begitu, pandangan ini tidak menafikan adanya realitas-empirik dalam dunia nyata sebagaimana yang pandangan pertama.
Keraguan
terhadap panca indera dan akal sebagaimana disebutkan diatas sangat lemah.
Kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh panca indera muncul dari keadaannya yang
tidak normal, atau perubahan yang terjadi pada objek-realitas bukan pada panca
indera sendiri. Hal ini dalam zaman modern bisa dibuktikan dengan menggunakan
kamera. Kamera sebagai sebuah alat untuk memindahkan sebuah objek sesuai dengan
realitasnya tanpa merubahnya. Apa yang ditangkap oleh kamera sama dengan apa
yang ditangkap oleh panca indera. Sedangkan kesalahan oleh akal disebabkan oleh
kesalahan dari proses-proses berfikir yang ditempuh. Seringkali seorang
cendikiawan tidak memperhatikan parameter-parameter dalam keilmuan mereka
sehingga jatuh kedalam kesalahan.
Ketiga,
pandangan yang berpendapat tentang berubah-ubahnya pengetahuan sehingga ia tidak
konsisten. Pandangan ini dianggap sebagai kesalahan dari pemahaman mereka
terhadap pengetahuan. Mereka mencampur-aduk antara pengetahuan akal yang
stagnan dan pengetahuan inderawi yang dinamis, antara ilmu logika yang pasti
dan ilmu logika asumtif.
Dan terakhir
adalah relatifitas pengetahuan dan tidak adanya pengetahuan yang mutlak.
Pandangan ini merupakan klaim orang yang tidak mempunyai standar pengetahuan
dalam keilmuan. Dalam menghukumi sebuah benda atau fenomena tergantung dari
sudut pandang masing-masing orang. Kelompok yang tidak setuju dengan pandangan
ini menganggap bahwa pernyataan tersebut sebenarnya diarahkan dalam diskursus
keyakinan dan pemikiran yang tidak yang tidak ada standard kebenarannya. Hal
ini berbeda dengan ilmu matematis dan ilmu eksperimen yang mempunyai
aturan-aturan nyata yang tidak bisa dibatalkan seperti tidak bisa seseorang
mengklaim bahwa besi tidak akan memuai disebabkan panas atau klaim bahwa empat
adalah bilangan ganjil.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Pegetahuan adalah sesuatu yang digambarkan dalam akal manusia. Ia
terbagi menjadi tiga bagian yakni pengetahuan empiris, logis, dan mistis.
Perbedaan ini berasal dari sumber-sumber pengetahuan yang berbeda. Dalam
perkembangan manusia terdapat tiga sumber pengetahuan yakni akal, panca indera,
dan intuisi.
Perkembangan pengetahuan secara umum disebabkan oleh
kebutuhan-kebutuhaan yang mendorong manusia untuk mendapatkan pengetahuan.
Sekalipun juga terdapat beberapa pengetahuan yang motifnya untuk mendapatkan
pekerjaan.
B.
Saran dan Kritik
1.
Dalam
penulisan makalah ini sangat minim refrensi dari pihak barat sehingga tidak
bisa dikatakan komprehensif.
2.
Terdapat
beberapa bahasa yang tidak menemukan alih bahasa yang tepat dalam bentuk
indonesia sehingga memerlukan penjelasan khusus.