Selasa, 29 September 2020

MACAM-MACAM MABNI DAN KALIMAT YG MABNI DALAM NAHWU SHOROF

 

MACAM-MACAM MABNI

Mabni

Kalimat M abni

sukun

-fiil amar yg sohih ahir dan yg bertemu nun niswah أفعُلْ ، أُنْصُرْنَ

-fiil madhi, ketika bertemu dhamir rofa 'mutaharrik فَعَلْتُ ، فَعَلْنَا

-fiil mudhari ', ketika bertemu nun niswah يَضْرِبْنَ ، تَضْرِبْنَ

-isim fiil: isim kontrol fiil madhi / mudhari '/ amar tapi tak dapat   menerima tandanya.، قَطْ وَيْ (أَعْجَبُ) ، صَهْ (اُسْكُتْ) ، مَهْ ، عَلَيْكَ (إلزم) dll.

-isim,، ذَا هُمْ ، أَنْتُمْ ، ها dll.

-huruf, لَمْ هَلْ أوْ أَمْ أَنْ لَنْ مِنْ إلى عَنْ فِيْ dll.

Fathah

-fiil madhi, tidak bertemu damir rofa 'mutaharrik dan واو جمع

-fiil mudhari'yg bertemu nun taukid tsaqilah atau khofifah يَعِدَنَّ

-fiil amar bertemu nun taukid tsaqilah atau khofifah إِضْرِبَنْ / نَّ

- isim fiil:، شَتَّانَ (إفْتَرَقَ) ، بَلْهَ (دَعْ) ، حَيَّ  هَيْهَاتَ (بَعُدَ) ، أمِيْنَ (إسْتَجِبْ) dll.

- isim : ، كَيْفَ ، ثَمَّ ، هُوَ ، أَنْتَ ، أحَدَ عَشَرَ أَيْنَ dll.

-huruf: وَ ، ثُمَّ ، كَ ، أَ ، إِنَّ ، أَنَّ dll.

Kasrah

- isim :َ أَمْسِ ، هِ  هلاءِ

- isim fiil: ، هَاتِ (أَعْطِنِيْ) بَخٍ (أسْتَحْسَنُ) ، أُفٍ (أتَضَجَّرُ) dll.

-huruf: بِ   ، لِ dll.

Dammah

- fiil madhi, ketika bertemu wawu jama '. Spt فَعَلُوْا ، كَتَبُوا

- isim fiil: حَسْبُ (يَكْفِيْ) dll.

-isim : هُ ، نَحْنُ ، تُ dll.

-isim dharaf , ketika tidak dimudafkan. spt حَيْثُ ، بَعْدُ ، قَبْلُ dll.

-huruf: مُنْذُ  dll.

Buang illat

-fiil amar mu'tal ahir : أُدْعُ (أُدْعُوْ) ، إِرْمِ (إرْمِيْ) ، إِخْشَ (إخْشَا)

Buang biarawati

-fiil amar ketemu .ياء مؤنث مخاطبة ، واو جمع ، الف تثنية spt أُنْصُرَا / وْا / يْ

tanda  rofa '

- munada mufrad alam dan nakirah makshudah يَا زَيْدُ / انِ / وْنَ / رَجُلُ

tanda. nas o b fathah

- isim لا (menafikan jenis) yg asalnya nasob fathah. لَا رَجُلَ فِيْهَا

tanda. nasob kasrah

- isim لا (menafikan jenis) yg asalnya nasob kasrah. لَا مُسْلِمَاتِ فِيْهَا

tanda. nasob ya '

-isim لا(menafikan jenis) yg asalnya nasob ya '. لَا رَجُلَيْنِ فِيْهَا

Sabtu, 07 September 2019

filsafat islam: teori pengetahuan menurut kitab-kitab islam


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Manusia diciptakan oleh Allah sebagai khalifatullah fi al-Ardl. Ia bertugas untuk menjaga dan merawat dunia. Oleh karena itu manusia diberi akal untuk bisa menalar dan mengetahui tentang apa saja yang bisa menjadi sarana untuk merawat dunia.
Dalam memperoleh pengetahuan ini, manusia melakukan beberapa cara untuk dapat mengetahuinya. Cara-cara tersebut berbeda antara satu dengan lainnya. Perbedaan cara tersebut pada akhirnya menghasilkan beberapa kesimpulan yang berbeda antara satu dengan lainnya.
Sekalipun semua manusia dibekali dengan akal, namun proses mereka untuk menemukan pengetahuan berbeda-beda. Satu kelompok menggunakan dan mengedepankan akal dalam mencari pengetahuan. Sedangkan kelompok yang lain menggunakan akal sebagai sarana kedua setelah panca indera. Hal inilah yang kemudian menjadikan para filosof berdebat tentang hakekat pengetahuan dan sumbernya.
Perbedaan sengit para filosof mengenai pengetahuan menunjukkan ungensitasnya dalam kehidupan manusia. Pengetahuan bisa mempengaruhi perilaku manusia dalam skala personal dan kehidupan bermasyarakat dalam skala luas. Tidak jarang permusuhan diantara manusia terjadi disebabkan pengetahuan yang berbeda.  
      
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengetahuan itu ?
2.      Dari mana pengetahuan itu muncul ?
3.      Bagaimana sejarah pengetahuan manusia ?

C.    Tujuan Penulisan
Tujuan utama dari penulisan makalah ini adalah sebagai pemenuhan tugas mata kuliah Filasafat Hukum Islam. Disamping itu juga, makalah ini ditulis dengan tujuan mengetahui hakikat pengetahuan, macam-macam pengetahuan dan sumber-sumbernya. 

D.     
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan lebih luas cakupannya daripada ilmu karena pengetahuan terdiri dari pengetahuan ilmiah dan non-ilmiah.[1]Dalam bahasa arab, pengetahuan diungkapkan dengan kata ‘ilm dan ma’rifah. Sedangkan dalam bahasa inggris, pengetahuan diistilahkan dengan kata knowledge dan dalam bahasa prancis disebut connaissance.[2]
Terdapat beberapa penafsiran mengenai hakikat pengetahuan. Menurut kelompok mu’tazilah pengetahuan adalah sesuatu yang bisa menentramkan kepada seseorang apabila ia mengetahui sesuatu yang ia peroleh. Oleh karena itu apabila sesuatu itu tidak menjadikan tentram dan tidak diyakini oleh orang tersebut maka tidak dinamakan sebagai pengetahuan[3] Sedangkan menurut Ahlus Sunnah pengetahuan adalah mengetahui objek sesuai dengan hakekatnya. Ini adalah pendapat yang dikemukakan oleh Imam al-Bulqini. Sedangkan menurut Imam al-Ghazaliy pengetahuan adalah munculnya gambaran ideal dalam akal manusia.
Pengetahuan dengan kedua definisi tersebut diatas berbeda dengan pandangan pengetahuan menurut Filosof Muslim. Menurut mereka pengetahuan adalah tercapainya gambaran sesuatu pada akal manusia. Menurut Ikhwan al-Shafa pengetahuan adalah gambaran objek yang diketahui pada diri orang yang mengetahui. [4] Adapun pengetahuan menurut al-Quran adalah pengetahuan-pengetahuan, pemahaman-pemahaman, hukum-hukum, dan pengertian-pengertian yang bersifat pasti berupa kesimpulan dari apa yang diperoleh melalui wahyu, panca indera, akal, intuisi, dll. [5]
Sedangkan menurut para ahli di Indonesia terdapat beberapa pengertian terkait dengan definisi pengetahuan. Menurut Pudjawidjana, Pengetahuan memiliki definisi sebagai reaksi dari setiap orang dan diterima dengan rangsangan terhadap alat terkait kegiatan indera penginderaan jauh di objek tertentu. Sedangkan Notoadmojo (2002), Mendefinisikan Pengetahuan berupa ide atau hasil dari sebuah aktivitas/Prilaku manusia yang telah terjadi setelah penginderaan dari objek tertentu, teori ini pun sama halnya yang di katakan oleh Locke. Menurut Sumadi  (1996) pengetahuan merupakan kemampuan seseorang dalam mengingat fakta, simbol, proses, dan teori.[6]

B.     Sumber Pengetahuan
Sumber pengetahuan bermakna asal muasal pengetahuan manusia. Para ahli mempunyai beberapa pandangan mengenai darimana pengetahuan muncul. Pandangan-pandangan ini dapat dikategorikan menjadi dua kelompok. Pertama asal-muasal pegetahuan menurut barat dan tradisi timur terutama islam.
Dalam dunia barat dikenal tiga aliran yang mempunyai pandangan tentang sumber pengetahuan. Pertama, menurut kelompok empirisme sumber pengetahuan adalah informasi inderawi yang berasal dari panca indera.[7] Kedua, menurut kelompok rasionalis sumber pengetahuan adalah akal. Dan Ketiga, sumber pengetahuan menurut kelompok kritisme atau positivisme adalah akal dan informasi inderawi. Disamping itu, menurut pengikut Plato sumber pengetahuan ini berasal dari jiwa yang mengetahui yang ada pada alam ide.[8]
Pandangan barat mengenai sumber pengetahuan berbeda dengan pandangan timur. Menurut para ahli dari timur sumber pengetahuan tidak terbatas hanya pada indera dan akal. Mereka menambahkan unsur spiritual dalam sumber pengetahuan. Menurut al-Kindi proses untuk manusia mendapat pengetahuan ada tiga yakni panca indera, akal, dan Wahyu.[9] Sedangkan menurut Imam al-Ghazaliy adalah panca indera, akal, dan pengalaman langsung (syuhud).[10]
Sumber pengetahuan menurut kelompok tasawwuf adalah intuisi (potensi hati yang tercerahkan dengan cahaya Yang Maha Suci). [11] Sedangkan menurut Filosof Iluminasi[12] seperti al-Farabiy dan Ibnu Sina pengetahuan ini berasal dari al-aql al-fa’al. Akal ini merupakan akal bagian terakhir dari beberapa akal. Akal inilah yang menjadi suber pengetahuan ladunniy.[13]   

C.    Macam-macam Pengetahuan      
1.      Pengetahuan empiris (al-Ma’rifah al-Tajribiyyah)
Pengetahuan empiris adalah pengetahuan yang muncul dari hal-hal inderawi. Dalam dunia filsafat, pengetahuan ini merupakan gambaran dari aliran empirisme dan matrealisme.[14] Pengetahuan empiris dikenal di Yunani bersumber dari panca indera dan oleh filosof Islam dikenal dengan ilmu alam. Filosof-filosof awal termasuk kaum shofis sangat intens dengan pengetahuan ini dengan melakukan kajian-kajian dan diskusi-diskusi filsafat yang terkait dengan panca indera.[15]
Panca indera dalam pengetahuan empiris menduduki posisi utama. Hal ini mengindikasikan bahwa pengetahuan empiris tidak menafikan adanya pengetahuan dengan selain panca indera. Namun yang menjadi catatan, legalitas kebenaran segala sesuatu tergantung pada panca indera.[16]
Menurut para filosof panca indera tebagi menjadi dua :[17]
a.       Panca Indera luar yakni mata untuk melihat, hidung untuk mencium bau, tangan untuk merasakan, telinga untuk mendengar, dan lidah untuk merasakan.
b.      Panca Indera Dalam yakni kekuatan batin yang menerima gambaran-gambaran materi dari panca indera luar. Hal ini disebabkan masing-masing panca indera luar hanya mampu menerima satu macam dari objek-objek inderawi dan tidak mampu untuk menghukumi objek tersebut.  
2.      Pengetahuan logis (al-Ma’rifah al-‘Aqliyyah)
Karakter penting yang membedakan manusia dari makhluk yang lain adalah akal. Semua aliran sepakat dan tidak bisa menafikan akal sebagai sumber pengetahuan. Point yang menjadi perbedaan diantara aliran-aliran adalah pemahaman tentang akal dan bagaimana ia terbentuk. Menurut kelompok empiris akal adalah jisim dan sesuatu yang dipikirkan oleh akal adalah sesuatu yang muncul darinya. Sedangkan menurut kelompok positivistime modern seperti John Lock, akal adalah unsur utama yang terbentang luas dan tidak dapat terbagi maupun tercerai-berai yang berada pada sebuah materi.[18]
Kelompok rasionalis menganggap bahwa akal termasuk alam ide dan tidak butuh terhadap materi. Segala barang inderawi hanya mengingatkan akal terhadap alam ide atau hakikat-hakikat yang ada pada dunia akal. Sedangkan menurut filosof muslim akal adalah bagian dari jiwa kognitif. Teori akal filosof muslim dikonstruksikan dari teori mereka mengenai jiwa.[19]
Perbedaan penafsiran ini berimbas kepada relasi antara akal dengan panca indera. Menurut kelompok empirisme, hubungan akal dengan panca indera adalah hubungan jenis-cabang dengan pengertian akal sebagai cabang dari panca indera atau dengan istilah yang lain akal merupakan bagian dari proses inderawi didalam sebuah eksperimen. Hal ini berbeda dengan kelompok rasionalis yang berpendapat bahwa hubungan akal dengan panca indera adalah hubungan mushahabah (berjalan beriringan). Apa yang ditangkap oleh panca indera hanya mengingatkan kepada bentuk ide yang ada dunia akal.[20]     
Pengetahuan rasionalis oleh para pengikutnya dianggap lebih kredibel daripada panca indera. Seringkali apa yang ditangkap oleh panca indera menipu dan tidak sesuai dengan realitas. Dengan kelemahan ini apa yang diketahui oleh panca indera tidak dapat dikatakan sebagai pengetahuan. Kelemahan ini membuat pengetahuan inderawi tidak memiliki sifat dlarurah (kepastian) dan sifat universal (shidq al-Ta’mim).[21]  
3.      Pengetahuan Mistis (al-Ma’rifah al-Laduniyyah)
Pengetahuan ini muncul berdasarkan dari adanya sebagian orang yang mempunyai anggapan bahwa ada sesuatu diluar akal dan panca indera manusia yang mampu untuk memberikan pengetahuan. Sesuatu tersebut dirasakan oleh jiwa manusia dan diakui keberadaannya oleh sifat kemanusiaannya. Dalam istilah keagamaan pengetahuan ini berada dalam diri manusia dan disebut dengan pengetahuan nubuwwah yang berasal dari wahyu. [22]Adanya pengetahuan ini bukan menegasikan kedua pengetahuan diatas tertapi menegasikan batasan yang mengatakan bahwa pengetahuan hanya dapat diperoleh melalui kedua cara tersebut (akal dan panca indera).
Pengetahuan laduniyyah juga disebut sebagai al-ma’rifah al-Iayraqiyyah (Pengetahuan Iluminatif), al-Ma’rifah al-Hadatsiyyah (Pengetahuan Intuitif), dan al-Ma’rifah al-Shufiyyah (Pengetahuan Tasawwuf). Imam al-Ghazaliy pernah mengatakan :[23]
اعلم أن العلوم التي ليست ضرورية وإنما تحصل في القلب في بعض الأحوال تختلف الحال في حصولها فتارة تهجم على القلب كأنه ألقى فيه من حيث لا يدري وتارة تكتسب بطريق الاستدلال والتعلم فالذي يحصل لا بطريق الاكتساب وحيلة الدليل يسمى إلهاماً والذي يحصل بالاستدلال يسمى اعتباراً واستبصاراً ثم الواقع في القلب بغير حيلة وتعلم واجتهاد من العبد ينقسم إلى ما لا يدري العبد أنه كيف حصل له ومن أين حصل وإلى ما يطلع معه على السبب الذي منه استفاد ذلك العلم وهو مشاهدة الملك الملقى في القلب والأول يسمى إلهاماً ونفثاً في الروع والثاني يسمى وحياً وتختص به الأنبياء

“Ketahuilah, sesungguhnya ilmu yang bukan dlaruriy hanya bisa masuk kedalam hati pada beberapa keadaan yang berbeda. Pada suatu saat ilmu tersebut bisa tiba-tiba masuk kedalam hati seolah-olah ilmu itu dilemparkan entah dari mana. Dan pada suatu saat ilmu itu diperoleh melalui proses belajar dan mencari dalil. Proses ilmu yang pertama dinamakan ilham sedangkan proses yang kedua dinamakan kontemplasi (I’tibar, istibshar ). Sesuatu yang muncul di hati tanpa adanya proses belajar dan usaha terbagi menjadi dua. Pertama sesuatu tersebut tidak diketahui bagaimana dan darimana ia muncul. Ini dinamakan ilham. Kedua sesuatu yang muncul tersebut diketahui beserta dari mana ia muncul yakni penyaksian (musyahadah) terhadap Dzat yang memasukkan kedalam hati. Ini dinamakan wahyu yang khusus kepada para nabi
Terdapat beberapa tahapan untuk dalam pengetahuan mistis. Tahapan ini oleh para kaum sufi terbagi menjadi tiga tahapan :[24]
1.      Al-Hadlirah ialah sifat ada pada hati setelah adanya ayat dan bukti spiritual.
2.      Al-Mukasyafah ialah munculnya kebenaran dengan keterangan tanpa butuh terhadap rasionalisasi.
3.      Al-Musyahadah ialah munculnya kebenaran tanpa ada kecurigaan berupa keraguan atau kesamaran.

c.       Pengetahuan Dalam Lintasan Sejarah Manusia
Pengetahuan orang zaman dahulu tentu berbeda dengan pengetahuan orang zaman sekarang. Namun begitu, sangat sulit untuk melacak dan menjawab pertanyaan bagaimana aktifitas pengetahuan orang zaman awal-awal. Kesulitan ini disebabkan oleh beberapa factor, salah satu yang paling utama adalah hilangnya materi pengetahuan orang zaman awal-awal. Hal ini karena aktivitas pengetahuan zaman dahulu masih berbentuk oral yang dituturkan dari satu orang kepada orang lain.  
Oleh karena itu, Ibrahim Syamsyuddin membagi sejarah pengetahuan manusia kedalam dua tahapan. Pertama adalah tahapan pengetahuan manusia-manusia awal sebelum adanya kodifikasi pengetahuan dalam bentuk tulisan maupun buku.[25] Dan kedua adalah tahapan pengetahuan setelah adanya kodifikasi dalam bentuk keduanya dan tahapan lanjutan dari perubahan manusia dari yang asalnya berburu menjadi manusia agraris.
Pengetahuan dalam periode pertama, sebagimana dijelaskan diatas tidak banyak diketahui. Namun secara global dapat diketahui bahwa pengetahuan pada masa  pertama rata-rata berupa pengalaman keseharian dan terkait dengan kebutuhan manusia sehari-hari. Seperti pengetahuan cara menyalakan api, memanen buah, dan berburu.
Permulaan dari pengetahuan manusia yang diimplementasikan dalam bentuk perbuatan dapat dicatat bersamaan dengan perubahan manusia dari yang awalnya mengambil makanan yang telah tersedia di bumi, manusia perlahan mulai membuat makanan sesuai dengan selera dan kebutuhannya. Peradaban ini perlahan-lahan mulai bergerak ke depan dan melahirkan kebutuhan-kebutuhan baru bagi manusia.
Berangkat dari sini dapat diasumsikan mereka juga mulai mengembangkan pengetahuan mengenai pertanian dan pengolahan makanan. Disamping juga  bisa diasumsikan bahwa manusia mulai mengetahui tentang hitungan-bilangan. Yang pada awalnya bilangan hanya terbatas pada jumlah jari tangan dan jari kaki, mulai berkembang menjadi bilangan yang lebih banyak dan lebih besar. Siklus perkembangan ini terjadi dalam hal-hal yang bersifat materi.[26]
Tidak hanya menyangkut aspek kebutuhan materi manusia, pengetahuan manusia juga menyangkut kebutuhan-kebutuhan yang sifatnya non-materi seperti kepercayaan dan seni. Seiring dengan fenomena kematian  dan bencana-bencana yang tidak terduga,manusia mulai melihat dan merenung tentang sesuatu yang berada dibalik alam inderawi. Sesuatu tersebut tentunya lebih tinggi, lebih perkasa daripada sesuatu yang fana dan hancur. Dari sinilah kemudian muncul fenomena kepercayaan dalam kehidupan manusia.  
Tidak hanya kepercayaan, kebutuhan tentang seni mendorong manusia untuk juga mengetahui segala sesuatu yang dapat membuat keindahan dan menjadikan ketenangan. Hal ini dapat dijumpai dalam lukisan-lukisan yang berada dalam gua, bentuk bangunan, perpaduan warna, dan aneka pahatan-pahatan.
Di tengah-tengah hal tersebut, muncul kemudian sistem penulisan yang oleh manusia dianggap  sangat penting. Sistem penulisan ini juga mulai berkembang secara perlahan sampai munculnya huruf-huruf alphabet yang terdiri dari 24 huruf. Seiring dengan perkembangan sistem penulisan, pengetahuan manusia pun mulai berkembang baik tentang sastra maupun tentang keilmuan.
Dari penjelasan diatas dapat ditarik benang lurus bahwa pengetahuan manusia pada awalnya hanya berkisar dengan kebutuhan-kebutuhan langsung manusia. Setelah itu pengetahuan manusia mulai berkembang disamping berupa kebutuhan juga pekerjaan yang dilakukan. Kemudian berkembang kepada pengetahuan yang lebih luas dan sistematis. [27]    

d.      Pengetahun Antara Ada dan Tiada
Dalam pengetahuan dikenal istilah keraguan dan keyakinan. Kedua istilah ini muncul dari sebuah problem tentang eksistensi pengetahuan (imkan al-Ma’rifah). Keraguan dalam pengetahuan oleh sebagian kalangan diartikan dengan pengingkaran terhadap pengetahuan itu sendiri. Sedangkan keyakinan adalah sikap menerima dan mendukung akan eksistensi pengetahuan itu sendiri.
Keraguan tentang pengetahuan bisa dijumpai dalam empat hal. Berikut adalah macam-macam keraguan dalam hal ada dan tidak adanya pengetahuan beserta sanggahan-sanggahannya. [28]
Pertama pengingkaran terhadap realitas-empirik. Pandangan ini menolak hakekat segala sesuatu dan eksistensinya dalam dunia nyata. Kelompok yang menganut faham ini adalah kaum sofis dan kelompok idealis modern.
Terhadap keraguan yang pertama bisa disanggah dengan prinsip dasar kausalitas. Menurut teori tersebut segala ciptaan pasti mempunyai sebab. Di alam ini terdapat beberapa fenomena yang dapat dirasakan dan kemudian diteliti oleh manusia. Apabila fenomena tersebut muncul dari persepsi dari dalam diri manusia sendiri, niscaya manusia akan mengetahuinya secara langsung. Namun apabila ia tidak mengetahui penyebab fenomena tersebut, niscaya penyebab tersebut berasal dari luar diri manusia.[29]
Kedua , meragukan terhadap kredibilitas sarana-sarana pengetahuan baik yang berasal dari akal maupun panca indera. Sarana-sarana pengetahuan dianggap tidak mampu untuk menyingkap dan mendeskripsikan realitas. Menurut pandangan ini, panca indera satu dengan lainnya tidak mempunyai satu kesepakatan tetang satu objek. Mata menangkap objek sebagai sesuatu yang bulat, sementara hidung menangkap objek dengan bau harum, dan tangan menangkap objek dengan kelembutan. Begitupun apa yang diindera oleh panca indera akan berbeda-beda karena konteks ruang dan waktu yang berbeda semisal dalam kondisi sehat atau sakit. Sebuah benda akan dilihat besar dan kecil oleh mata. Dilihat kecil oleh mata apabila ia jauh dan terlihat besar apabila ia dekat.[30] 
Sedangkan sarana akal, mereka meragukan akal untuk menemukan pengetahuan. Sekalipun akal merupakan sesuatu yang menjadi bawaan sejak lahir bukan berarti ia dapat dipastikan untuk menemukan pengetahuan. Sering kali ilmu-ilmu yang diperoleh dari akal bertentangan antara satu dengan lainnya. Ini menunjukkan bahwa sarana pengetahuan yang dimiliki manusia tidak kredibel.[31] Sekalipun begitu, pandangan ini tidak menafikan adanya realitas-empirik dalam dunia nyata sebagaimana yang pandangan pertama.
Keraguan terhadap panca indera dan akal sebagaimana disebutkan diatas sangat lemah. Kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh panca indera muncul dari keadaannya yang tidak normal, atau perubahan yang terjadi pada objek-realitas bukan pada panca indera sendiri. Hal ini dalam zaman modern bisa dibuktikan dengan menggunakan kamera. Kamera sebagai sebuah alat untuk memindahkan sebuah objek sesuai dengan realitasnya tanpa merubahnya. Apa yang ditangkap oleh kamera sama dengan apa yang ditangkap oleh panca indera. Sedangkan kesalahan oleh akal disebabkan oleh kesalahan dari proses-proses berfikir yang ditempuh. Seringkali seorang cendikiawan tidak memperhatikan parameter-parameter dalam keilmuan mereka sehingga jatuh kedalam kesalahan.[32]      
Ketiga, pandangan yang berpendapat tentang berubah-ubahnya pengetahuan sehingga ia tidak konsisten. Pandangan ini dianggap sebagai kesalahan dari pemahaman mereka terhadap pengetahuan. Mereka mencampur-aduk antara pengetahuan akal yang stagnan dan pengetahuan inderawi yang dinamis, antara ilmu logika yang pasti dan ilmu logika asumtif.[33]
Dan terakhir adalah relatifitas pengetahuan dan tidak adanya pengetahuan yang mutlak. Pandangan ini merupakan klaim orang yang tidak mempunyai standar pengetahuan dalam keilmuan. Dalam menghukumi sebuah benda atau fenomena tergantung dari sudut pandang masing-masing orang. Kelompok yang tidak setuju dengan pandangan ini menganggap bahwa pernyataan tersebut sebenarnya diarahkan dalam diskursus keyakinan dan pemikiran yang tidak yang tidak ada standard kebenarannya. Hal ini berbeda dengan ilmu matematis dan ilmu eksperimen yang mempunyai aturan-aturan nyata yang tidak bisa dibatalkan seperti tidak bisa seseorang mengklaim bahwa besi tidak akan memuai disebabkan panas atau klaim bahwa empat adalah bilangan ganjil.[34]
   







BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Pegetahuan adalah sesuatu yang digambarkan dalam akal manusia. Ia terbagi menjadi tiga bagian yakni pengetahuan empiris, logis, dan mistis. Perbedaan ini berasal dari sumber-sumber pengetahuan yang berbeda. Dalam perkembangan manusia terdapat tiga sumber pengetahuan yakni akal, panca indera, dan intuisi.
Perkembangan pengetahuan secara umum disebabkan oleh kebutuhan-kebutuhaan yang mendorong manusia untuk mendapatkan pengetahuan. Sekalipun juga terdapat beberapa pengetahuan yang motifnya untuk mendapatkan pekerjaan.

B.     Saran dan Kritik
1.      Dalam penulisan makalah ini sangat minim refrensi dari pihak barat sehingga tidak bisa dikatakan komprehensif.
2.      Terdapat beberapa bahasa yang tidak menemukan alih bahasa yang tepat dalam bentuk indonesia sehingga memerlukan penjelasan khusus.














DAFTAR PUSTAKA

Abdul Hamid, Rajih. Nadzariyyah al-Ma’rifah baina al-Quran wa al-Falsafah (Riyadl: Al-Muayyad, 1992)
Al-Ghazaliy, Ihya’ ‘Ulumiddin (Beirut: Darul Kutub Ilmiyyah, 2013)
_______, Mi’yar al-‘Ilm (Mesir: Darul Maarif, 1967)
al-Mishriy, Aiman. Ushul al-Ma’rifah wa al-Manhaj al-‘Aqliy (Beirut: Al-Amirah, 2012)
Haji, Ja’far Abbas. Nadzariyyah al-Ma’rifah fi al-Islam (Kuwait: Maktabah Alfain, 1987)
Ibrahim, Syamsuddin. Marji’u al-Thullab fi al-Insya’ al-Falsafi (Beirut: Darul Kutub Ilmiyyah,2014)
Jabir, Ali. Nadzariyyah al-Ma’rifah ‘Inda al-Falasifah al-Muslimin (Beirut: Darul Hadi, 2004)
Ma’lami, Hasan. Ithlalah ala Nadzriyyah al-Ma’rifah, (Beirut: Darul Wala’, 2014)
Madkur, Ibrahim. al-Mu’jam al-Falsafi (Kairo: Majma’ al-Lughah al-‘Arabiyyah, 1983)
Mahmud, Zaki Najib. Nadzariyyah Ma’rifah (t.tp.: Hindawi, t.th.)




[1] Ja’far Abbas Haji, Nadzariyyah al-Ma’rifah fi al-Islam (Kuwait: Maktabah Alfain, 1987), 84
[2] Ibrahim Madkur, al-Mu’jam al-Falsafi (Kairo: Majma’ al-Lughah al-‘Arabiyyah, 1983), 186
[3] Rajih Abdul Hamid, Nadzariyyah al-Ma’rifah baina al-Quran wa al-Falsafah (Riyadl: Al-Muayyad, 1992), 34
[4] Rajih Abdul Hamid, Nadzariyyah al-Ma’rifah baina al-Quran wa al-Falsafah (Riyadl: Al-Muayyad, 1992), 36
[5] Rajih Abdul Hamid, Nadzariyyah al-Ma’rifah baina al-Quran wa al-Falsafah (Riyadl: Al-Muayyad, 1992), 459
[6]ttps://www.ruangguru.co.id/6-pengertian-pengetahuan-definisi-jenis-dan-faktor-beserta-tingkatannya-menurut-para-ahli/ diakses pada Senin 2 september 2019 pada jam 12:30
[7] Zaki Najib Mahmud, Nadzariyyah Ma’rifah (t.tp.: Hindawi, t.th.), 37, Rajih Abdul Hamid, Nadzariyyah al-Ma’rifah baina al-Quran wa al-Falsafah (Riyadl: Al-Muayyad, 1992), 514
[8] Rajih Abdul Hamid, Nadzariyyah al-Ma’rifah baina al-Quran wa al-Falsafah (Riyadl: Al-Muayyad, 1992), 666
[9] Hasan Ma’lami, Ithlalah ala Nadzriyyah al-Ma’rifah, (Beirut: Darul Wala’, 2014), 25
[10] Hasan Ma’lami, Ithlalah ala Nadzriyyah al-Ma’rifah, (Beirut: Darul Wala’, 2014), 58
[11] Ali Jabir, Nadzariyyah al-Ma’rifah ‘Inda al-Falasifah al-Muslimin (Beirut: Darul Hadi, 2004), 94
[12] Madzhab Ilumanasi berpendapat bahwa sumber pengetahuan adalah ‘Isyraq yakni bagian dari intuisi yang mengikat zat yang mengetahui dengan subtansi-substansi yang tercerahkan (jawahir nuraniyyah). Pakar iluminasi dalam Islam adalah Suhrawardi dan dalam kristen adalah Augustin. Lihat Ibrahim Madkur, al-Mu’jam al-Falsafi (Kairo: Majma’ al-Lughah al-‘Arabiyyah, 1983),181
[13] Mayoritas ulama’ manthiq membagi akal menjadi tiga yakni al-‘Aql al-Fithriy ialah fitrah manusia yang sehat, Aql al-Tajribiy ialah sesuatu yang diperoleh manusia melalui eksperimen, dan Aql al-Waqariy sesuatu yang membuat manusia tenang yang oleh kaum teolog diistilahkan dengan tashawwur dan tashdiq. Sedangkan menurut para filosof akal mempunyai beberapa arti diantaranya adalah pertama Al-‘Aql al-Nadzari ialah potensi jiwa yang mampu untuk menerima hal-hal-universal yang terdiri atas aql al-Huyulaniy( akal anak kecil yang disiapkan untuk mengetahui objek-objek), aql bi al-Malakah (akal orang yang sudah tamyiz), aql bi al-fi’li (akal yang mampu untuk memahami teori-teori logika tetapi ia lupa terhadap teori tersebut), dan aql al-Mustafad (akal yang mampu megetahui beberapa pengetahuan dan tidak lupa terhadapnya).Kedua aql al-‘Amaliy (kekuatan nafsu yakni titik awal perubahan dari keinginan menjadi perbuatan memilih dengan adanya tujuan), ketiga aql al-Fa’al (substansi proyeksi yang tercerahkan sehingga bisa mengeluarkan aql huyuliy dari potensi menjadi kenyataan ), keempat aql al-Kulliy ( makna yang ada pada akal-akal manusia yang berbeda-beda dalam bentuk gambaran) dan terakhir aql al-Kull (akal universal yakni sejumlah subtansi yang terlepas dari materi ). Lihat al-Ghazaliy, Mi’yar al-‘Ilm (Mesir: Darul Maarif, 1967), 365    
[14] Aiman al-Mishriy, Ushul al-Ma’rifah wa al-Manhaj al-‘Aqliy (Beirut: Al-Amirah, 2012), 19
[15] Ja’far Abbas Haji, Nadzariyyah al-Ma’rifah fi al-Islam (Kuwait: Maktabah Alfain, 1987), 163
[16] Rajih Abdul Hamid, Nadzariyyah al-Ma’rifah baina al-Quran wa al-Falsafah (Riyadl: Al-Muayyad, 1992), 540
[17] Rajih Abdul Hamid, Nadzariyyah al-Ma’rifah baina al-Quran wa al-Falsafah (Riyadl: Al-Muayyad, 1992), 546
[18] Rajih Abdul Hamid, Nadzariyyah al-Ma’rifah baina al-Quran wa al-Falsafah (Riyadl: Al-Muayyad, 1992), 602
[19] Rajih Abdul Hamid, Nadzariyyah al-Ma’rifah baina al-Quran wa al-Falsafah (Riyadl: Al-Muayyad, 1992), 604
[20] Rajih Abdul Hamid, Nadzariyyah al-Ma’rifah baina al-Quran wa al-Falsafah (Riyadl: Al-Muayyad, 1992), 610
[21] Zaki Najib Mahmud, Nadzariyyah Ma’rifah (t.tp.: Hindawi, t.th.), 43
[22] Rajih Abdul Hamid, Nadzariyyah al-Ma’rifah baina al-Quran wa al-Falsafah (Riyadl: Al-Muayyad, 1992), 659
[23] Al-Ghazaliy, Ihya’ ‘Ulumiddin (Beirut: Darul Kutub Ilmiyyah, 2013), vol.3, 23
[24] Ali Jabir, Nadzariyyah al-Ma’rifah ‘Inda al-Falasifah al-Muslimin (Beirut: Darul Hadi, 2004), 90
[25] Ibrahim Syamsuddin, Marji’u al-Thullab fi al-Insya’ al-Falsafi (Beirut: Darul Kutub Ilmiyyah,2014), 170
[26] Ibrahim Syamsuddin, Marji’u al-Thullab fi al-Insya’ al-Falsafi (Beirut: Darul Kutub Ilmiyyah,2014), 172
[27] Ibrahim Syamsuddin, Marji’u al-Thullab fi al-Insya’ al-Falsafi (Beirut: Darul Kutub Ilmiyyah,2014), 172
[28] Aiman al-Mishriy, Ushul al-Ma’rifah wa al-Manhaj al-‘Aqliy (Beirut: Al-Amirah, 2012), 40
[29] Aiman al-Mishriy, Ushul al-Ma’rifah wa al-Manhaj al-‘Aqliy (Beirut: Al-Amirah, 2012), 41
[30] Aiman al-Mishriy, Ushul al-Ma’rifah wa al-Manhaj al-‘Aqliy (Beirut: Al-Amirah, 2012), 42
[31] Aiman al-Mishriy, Ushul al-Ma’rifah wa al-Manhaj al-‘Aqliy (Beirut: Al-Amirah, 2012), 42
[32] Aiman al-Mishriy, Ushul al-Ma’rifah wa al-Manhaj al-‘Aqliy (Beirut: Al-Amirah, 2012), 47
[33] Aiman al-Mishriy, Ushul al-Ma’rifah wa al-Manhaj al-‘Aqliy (Beirut: Al-Amirah, 2012), 49
[34] Aiman al-Mishriy, Ushul al-Ma’rifah wa al-Manhaj al-‘Aqliy (Beirut: Al-Amirah, 2012), 51